Posted on Mei 12th, 2012 at 10:04 AM by kurniawanpeace

Mau Jadi Apa, Kamu…

Tempo itu masih membekas,

Ketika dia bertanya,

Mau jadi apa, kamu?,

Jadi presiden,

Cita-cita macam apa, presiden itu,

Jangan sampai kamu jadi presiden,

Kamu harus jadi ombak di lautan lepas,

Mau jadi apa, kamu?,

Jadi pengacara,

Angan-angan macam apa, pengacara itu,

Jangan sampai kamu jadi pengacara,

Kamu harus jadi lazuardi di cakrawala,

Mau jadi apa, kamu?,

Jadi polisi,

Cita-cita macam apa, polisi itu,

Jangan sampai kamu jadi polisi,

Kamu harus jadi lentera,

Mau jadi apa, kamu?,

Jadi GURU,

Angan-angan macam apa, GURU itu,

Kamu ingin menjadi babu,

Pagi, siang, malam masih bekerja itu,

Tenaga, pikiran, materi, dan juga berkorban demi sanak family,

Bisa, bisa, naik pitam dan denyut nadi,

Mau kamu?,

Tugas yang berat,

Dia mengabdi demi Negara dan akhirat,

Mau jadi apa, kamu?,


Kurniawan, Menjelang Malam 2011

Posted on Mei 1st, 2012 at 2:57 PM by kurniawanpeace

hardiknas

SELAMAT HARI PENDIDIKAN NASIONAL


Dunia pendidikan pada hakikatnya menjadi salah satu wacana yang penting dan perlu dikaji lebih dalam. Hal tersebut terbukti dengan adanya pergerakkan para tokoh pendidikan pada zaman dahulu dalam memperjuangkan, mempertahankan, serta melahirkan generasi yang berjiwa nasionalisme tinggi. Salah satunya adalah bapak pendidikan, yaitu Ki Hajar Dewantoro. Ki Hajar Dewantoro adalah sosok pahlawan pendidikan yang membimbing dan mendidik rakyat Indonesia pada waktu itu. Beliau membentuk sekolah-sekolah untuk rakyat dengan menyediakan sarana dan prasarana pendidikan. Dengan semboyan Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani, ungkapan tersebut menggambarkan bahwasannya seorang pemimpin sudah semestinya menjadi contoh atau teladan bagi para pengikutnya. Meskipun keberadaannya ditentang oleh kaum penjajah, Beliau tidak pernah gentar dan menyerah begitu saja. Semangat dan tekat yang tinggi menjadi senjata untuk memperjuangkan nasib pendidikan rakyat demi menghapus kebodohan serta mencerdaskan generasi anak bangsa dari tekanan para penjajah.

Melihat dari sejarah tersebut, sebagai bangsa yang besar kita mempunyai peran utama dalam pendidikan, baik selaku guru atau pun sebagai pelajar. Guru sebagai pendidik dan pembimbing bagi muridnya sekaligus menjadi orang tua ketika di sekolah, dan para murid berperan sebagai sasaran utama dalam Proses Belajar Mengajar (PBM). Tujuan pendidikan nasional dalam pembukaan UUD ‘45 telah jelas disampaikan. Bahwa mencerdaskan generasi bangsa menjadi tugas dan misi yang akan dicapai bersama. Artinya, sebagai pelajar kita wajib menuntut ilmu dan membekali diri untuk masa yang akan datang. Selain itu, dalam diri pribadi juga perlu ditanamkan dan diajarkan bagaimana kita membentuk moral diri yang baik, untuk para pendidik dan para pelajar. Misalnya, guru dan murid harus tertib waktu, menanamkan rasa tanggung-jawab bersama, sopan santun, bertakwa, dan saling menghormati antara sesama, karena baik buruknya diri manusia tergantung pada moral manusia tersebut. Jika moral manusia suatu bangsa telah luntur dan hancur, maka perlahan hancur pula bangsa tersebut. Di sisi lain, jika manusia mempunyai moral dan akidah yang baik, insya Allah generasi bangsa tersebut akan baik pula. Dalam hal ini, pemerintah dan seluruh pendidik harus sejalan dalam menyukseskan tujuan pendidikan, saling mendukung, saling membantu, dan saling melengkapi. Dengan demikian, lahirlah sumber daya manusia yang patut dibanggakan.

Semangat Pendidikan Nasional. Maju Terus Pantang Mundur Generasi Pertiwi.

Menjelang Fajar, 2 Mei 2012.

Posted on April 11th, 2012 at 8:04 AM by kurniawanpeace

kartini-saja-wawandesain

PANGGIL AKU, KARTINI SAJA

Panggil Aku, Kartini saja,

Senja tenggelam kini di cakrawala Jepara,

Memburamkan separuh mata, diantara nelayan yang mulai membaur di garis pantai sepanjang kota,

Sekejap, angin di tanah jawa mencekik nafas hamba, saat perjuangan mulai lahir dan membiru lara,

Seribu delapan ratus tujuh puluh sembilan, itulah tahunnya.

Tetapi terlalu silam, dan jauh berbeda kini di tanah Jepara,

Jika Tuan kini singgah dan pijakkan langkah di tanah Hamba,

Maka Kaligrafi itu tinggalah sekadar momok sejarah atau nyanyian nostalgia,

_________________________________________________________________

Panggil Aku, Kartini saja,

Seratus dua puluh satu tahun berlalu, tepat ketika 12 tahunku,

Rasa-rasanya, teman-temanku masih terlihat polos dan manis,

Duduk bercanda di samping beranda, bertukar pena yang tak pernah sinis,

Sangatlah ku nikmati dan cicipi belajar tuk ukir masadepan,

Sahabat penaku dari Belanda, Stella  Zeehandelaar, begitulah namanya,

Suatu siang, ketika lonceng istirahat tiba, Letsy bertanya, “Ni, kelak kau bercita-cita jadi apa”?

Aku hanya terdiam dan menggelengkan kepala, rasanya pertanyaan itu belum waktunya tedengar di telinga,

Senja ke-dua mulai meredup, membawa pulang mengiringi gontai, basahi hati yang kian membara,

Harus kutanyakan kepada siapa?

Harus kuungkapkan kepada siapa?

Sementara saja, ayahku sendiri sibuk di tanah jawa, dan ibu tak tahu kemana rimbanya,

“Kalau anak perempuan, besok ya jadi Raden Ayu” cukup di rumah dan jangan jadi apa-apa, begitulah kakakku menjawabnya.

_________________________________________________________________

Duhai kasihku, Sahabatku, Stella,

Hatiku lega telah kini, walau hanya dua kalimat saja, namun jawaban itu telah membuatku lega,

Namun tahukah Engkau, tampaknya kita tak lagi bisa belajar bersama-sama,

Tembok besar dan tradisi tanah Jawa membuatku harus berada di dalamnya,

Aku hanya bisa berharap, kita tetap bisa bersua, walaupun lewat pena, bukankah begitu, Stella?

_________________________________________________________________

Panggil Aku, Kartini Saja,

Massa mudaku kini menjadi massa tuaku, dan sangat tak bisaku berbuat apa,

Beginilah tradisi Jawa, sekali tidak boleh selamanya mereka pun tak bisa,

Para perempuan harus tinggal di rumah, dan cita-cita mustahil menjadi nyata,

Bukankah rasa itu sangat mengerikan, Stella?

Duhai Sahabatku, Stella,

Aku tidak ingin orang lain harus membaca setiap pena yang kutuliskan,

Aku hanya ingin orang lain mau merasakan dan mengetahui hal-hal di tanah Jawa,

Empat tahun di dalam tembok tradisi Jawa membuat perjuangan ini semakin menganga,

Aku hanya ingin memberikan pendidikan di meja pengajaran jika suatu saat tembok ini telah terbuka,

__________________________________________________________________

Sahabatku,

Itulah pemandangan Kaligrafi suatu massa di Jepara dan di tanah Jawa,

Namun mengapa perjuangan ini, mulai luntur dan telah jauh berbeda,

Para penulis, semua bercerita tentang hati dan perasaan antara wanita dan pria,

Inilah revolusi massa kelam, yang berganti “Habis Gelap, terbitlah gelap”

Kasihku, Sahabatku,

Inginku berbaur dengan kalian saat senja ini, berbincang santai seperti kala waktu masih remaja,

Kalianlah para perempuan, yang sangat layak mendapatkan ilmu bahasa,

Bukan semata-mata untuk menjadi saingan kaum pria, karena aku sangatlah yakin besar pengaruhnya,

________________________________________________________________

Terima kasih, Sahabatku,

Fajar berbinar, jingga menghangatkan kalbu, teruskanlah semangat belajarmu,

Berjuanglah dan menderitalah untuk sejuta orang demi meniti masadepan,

Dan semoga semua ini akan segera terlihat sebuah bayang,

Dari Gelap menuju Terang, dari lentera yang tak akan pernah padam.

KURNIAWAN, MUSIM SEMI, APRIL 2012



Posted on April 9th, 2012 at 9:43 AM by kurniawanpeace

_festival-sastra-2012-51

-FESTIVAL SENI DAN SASTRA-

Selamat Datang di Rumah Bahasa dan Sastra

SMA NEGERI 1 Tawangsari Sukoharjo.

Salam Sastra dan Budaya! Rumah Bahasa dan Sastra SMAN Tawangsari Sukoharjo dalam rangka menyambut dan akan memperingati hari KARTINI, menyelenggarakan rangkaian kegiatan yang bertajuk FESTIVAL PENA SENI DAN SASTRA yang bertajuk Panggil Aku Kartini Saja. Kegiatan tersebut merupakan salah satu media apresiasi para pelajar dalam mengimplementasikan bahasa dan sastra di sekolah. Festival tersebut dilaksanakan kemarin pada tanggal 6 s/d 7 April 2012 di Rumah Bahasa SMAN Tawangsari Sukoharjo. Kegiatan meliputi: Lomba Cipta Cerpen Remaja, Cipta Puisi KARTINI, Lomba Baca Puisi KARTINI, Pameran Seni Rupa, MONOLOG Kartini, Pentas Seni Tari Sanggar Seni MI NEGERI GROGOL WERU, Bazar Buku Islami, dan masih banyak rangkaian kegiatan tersebut. Penerimaan Naskah cipta cerpen dan puisi telah dilakukan mulai bulan Pebruari sampai bulan April, hal tersebut bertujuan agar para peserta lebih leluasa dan bebas dalam berkarya, mengungkapkan pikiran dan perasaan menuangkan gagasan dan uneg-unegnya. Keberadaan Rumah Bahasa dan Sastra SMAN Tawangsari merupakan wadah yang relevan dalam pengembangan diri khususnya asepk bahasa. Drs. DARNO menegaskan, “Saya sangat bangga kepada rekan-rekan bahasa khususnya, mereka mempunyai kreativitas yang tinggi dalam menyambut hari Kartini dan mengapresiasikan bahasa dan sastra dalam pembelajaran di sekolah” begitu tandasnya.

Festival Bahasa dan Sastra melingkupi tingkat Se-Eks Karesidenan Surakarta, ini adalah event terbesar selama ini, ungkap pimpinan produksi waktu itu. Peserta mayoritas dari wilayah Sukoharjo, Klaten, dan Surakarta. Kegiatan tersebut merupakan penghimpunan para penulis-penulis muda yang nantinya bisa meneruskan langkah para pendidik dan para sastrawan di Indonesia. Antusias dari para peserta cukup membanggakan, terbukti ketika pelaksanaan bedah buku KARTINI peserta yang datang melebihi target yang panitia perhitungkan. Dalam suasana tersebut, Toat Kurniawan (wawan) selaku narasumber memberikan ulasan dan gambaran lebih detail, bukan semata-mata dari sosok Beliau menjadi pahlawan emansipasi wanita, melainkan mereka diajak untuk menyelami setiap pemikiran-pemikiran Beliau, perjuangan, dan dalam beliau berseni dan bersastra.

festival-sastra-2012-58Lomba Cipta Puisi dan Cerpen merupakan kegiatan rutinitas kami, hal tersebut memang selalu kami sertakan ketika mengadakan acara-acara khususnya dalam bidang bahasa dan sastra. Pameran Seni Rupa oleh Sanggar Seni MI Negeri Grogol juga disajikan untuk menambah suasana kegiatan tersebut. Pimpinan Produksi Wijatmoko menegaskan, ini merupakan wadah yang relevan dan sangat menakjubkan, bangga saya, begitu tandasnya. Sastra merupakan bagian dari seni, dan keduanya saling berkaitan saling melengkapi. Oleh karena itu, semoga ajang kreativitas rekan-rekan Rumah Bahasa SMAN Twangsari menjadikan motivasi kepada para pelajar dan para pendidik pada khususnya, dalam memberikan pembelajaran bahasa dan sastra bukan sekadar teori, melainkan harus dibarengi dengan praktik yang membrikan predikat tersendiri.

Hingga pada akhirnya kami mengucapkan terima kasih kepada: Keluarga SMAN Tawangsari, Drs, DARNO, Ibu Ita, Ibu Endang, Bapak Daliman yang telah berkenan membuka dan menjadi dewan juri kegiatan tersebut, Sanggar Seni MI Negeri Grogol, Rekan-rekan SOLOPOS, Ganesha Operation, Percetakan Sebelas Bintang, teman-teman sastra minoritas solo, Stamflat Sukoharjo, TB Romi Susilo Aji, TJM, rekan-rekan OSIS, dan segenap Keluarga RUMAH BAHASA SMAN Tawangsari. Terima kasih, sampai jumpa di episode selanjutnya. Berjuanglah dan terus berkarya untuk generasi pertiwi Indonesia.


Rumah Bahasa, Musim Semi, 6 s/d 7 April 2012


Posted on April 2nd, 2012 at 8:45 AM by kurniawanpeace
panggil-aku-kartini-saja-3

-Selamat Datang di Bulan Kartini -

Pergilah laksanakan cita-citamu. Kerjalah untuk hari depan. Kerjalah untuk kebahagiaan beribu-ribu orang yang tertindas di bawah hukum yang tidak adil dan paham-paham palsu tentang mana yang baik dan mana yang buruk. Pergi. Pergilah, berjuanglah dan menderitalah, tetapi untuk kepentingan yang abadi ____Jepara, Juli 1902.

Seribu delapan ratus tujuh puluh sembilan, menandai awal lahirnya sosok perempuan sederhana dari Jepara. Kartini, begitulah nama yang membalutnya. Mendeskripsikan Kartini sama halnya mengulas lebih dalam sejarah tanah air Indonesia dari sisi buruk dan baiknya. Hal tersebut terbukti dengan pergerakan para pejuang yang membumi pada zaman itu. Beliau adalah salah satu perempuan yang berjuang dalam pemikiran-pemikiran dalam setiap pena yang Beliau coretkan, yang berbeda dengan pejuang perempuan yang lain. Oleh karena itu, pada kesempatan ini dalam menyambut bulan Kartini, marilah kita banyak mengulas lebih dalam, bukan sekadar dari sudut pandang Beliau menjadi “Emansipasi Perempuan Indonesia” melainkan lebih daripada itu.

Sejarah emas telah menggambarkan, Kartini lahir  pada tahun 1879 di Mayong, Jepara, Jawa Tengah. Mayong merupakan kota kecil di Kabupaten Jepara yang terkenal dengan industri berupa pabrik-pabriknya. Ayahanda Beliau K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat adalah sosok Ayah yang mempunyai predikat yang terpandang di tanah Jawa dan di daerah lain. Beliau adalah Bupati Rembang pertama kali yang memimpin dan menjadi orang yang mempunyai pengaruh penting di tanah Jawa, terutama di Kabupaten Rembang dan Jepara. Selanjutnya, Ibu Kartini berasal dari Mayong kota kecil di Kabupaten Jepara, dahulu sering dikenal dengan sebutan kawedanan. Beliau hanya berasal dari kaum masyarakat biasa tidak seperti ayah Kartini yang mempunyai predikat kebangsaan. Sehari-hari, ibu Kartini hanya bekerja sebagai tukang buruh pabrik di Kawedanan Mayong, Jepara. Sejarah tidak memberikan gambaran atau pun penjelasan yang detail, terutama dalam kumpulan surat R.A. Kartini yang bertajuk “Habis Gelap, Terbitlah Terang” yang telah disunting oleh Abedannon salah satu sahabat pena Kartini.

namaku-kartini

Sejak umur 10 tahun, sosok Kartini mulai merasakan hal-hal yang menyimpang dalam keluarga dan pemikirannya, khususnya masalah pribadi dan tradisi Jawa. Sejak kecil Kartini sudah tidak lagi diasuh dengan Ibundanya. Sejarah menjelaskan, sejak keluarga Kartini menetap di Jepara, Ayahandanya mulai jarang tinggal di rumah dan sibuk mengurusi segala permasalahan di tanah Jawa. Sejak saat itulah Kartini banyak merenung dan melontarkan pertanyaan kepada dirinya sendiri, “Siapakah Ibuku sebenarnya?”. Kartini hanya mengetahui dan mengerti bahwa yang berada di keluarga adalah kakak, adik, ayahanda, dan ibu yang berasal dari keturunan bangsawan dari raja Madura. Kartini merasa tidak yakin bahwa Beliau adalah ibunda yang sebenarnya. Tetapi perasaan itu dipendamnya dalam-dalam, karena dia tidak ingin ayahandanya marah dengan ketidakpercayaan Kartini. Mulai umur 10 tahun, Kartini sudah mengemban ilmu di sekolah-sekolah yang di bawah naungan kaum Belanda. Deskriminasi dan celaan tidak pernah berhenti dilontarkan kepada Kartini kecil pada waktu itu. Warna kulit, kepribadian, keturunan, menjadi faktor-faktor yang membuat hati Kartini kecil semakin menangis dan bengis. Sisi lain, sahabat Kartini yang lainnya juga ada yang menyukai kesederhanaan dan kepribadiannya sebagai perempuan dari tanah Jawa. Suatu siang, ketika istirahat, Kartini ditanya temannya sahabatnya, “Ni, kelak bercita-cita jadi apa”?. Kartini hanya tertegun dengan pertanyaan itu, dengan seketika Kartini pun hanya menggelengkan kepalanya. Sesampai di rumah pertanyaan itu masih membayang-bayang dan mengendap di hati. Kartini bingung ingin menanyakan kepada siapa, akhirnya dia memberanikan diri bertanya kepada kakak bungsunya. “Kalau perempuan, ya jadi Raden Ajeng”. Kartini sangat lega dan tenang ketika mendengar jawaban singkat dari kakaknya.

Berangsurnya sang waktu, Kartini mulai mengembangkan pemikiran-pemikiran yang tertuang dalam perjuangan untuk bersekolah lebih tinggi di Belanda. Kartini ingin belajar lebih tinggi dan menimba ilmu di luar tanah Jawa. Namun itu ternyata hayanyalah sia-sia. Tradisi Jawa yang mengikat sosok perempuan menjadi hukum yang harus dipatuhi dan dilaksanakan, apalagi Kartini sebagai anak dari seorang Sang Bangsawan., jelas itu menleceng jauh dari tradisi Jawa. Ayahanda Kartini semakin emosi dan bertindak tidak terkendali. Hingga pada akhirnya, menginjak usia 12 tahun Kartini mulai terjegal dan terbui di dalam tembok besar dan tinggi dengan amanat ayahandanya sendiri.  Sejak saat itulah interaksi dan segala komunikasi Kartini dengan sahabatnya berhenti. Waktunya dihabiskan di depan meja jahit merenda dan menulis pemikiran-pemikiran kedalam sebuah pena yang ditujukan kepada teman-temannya di Belanda. Sesekali, sahabatnya dari belanda singgah ke Jepara untuk bekunjung dan melihat kabar Kartini, betapa senangnya Kartini melihat sahabatnya datang di Jepara.

Saudara-saudara R.A. Kartini menjadi salahsatu pembangkit motivasi dalam memperjuanagkan pemikiran-pemikiran Beliau, Rukmini dan Kardinah itulah Beliau. Dua saudara tersebut sangat membantu dalam kehadirannya. Beliau mulai membentuk sekolah-sekolah kecil seperti halnya sanggar belajar di sekitar Jepara. Di sisi lain, mereka juga dimotivasi dengan kehadiran pena-pena sahabat dari Belanda, Stella Zeehandellar dan Tuan Abedanon. Mereka berdua merupakan karib yang memotivasi walaupun mempunyai perbedaan yang begitu jauhnya.

Kawan-kawanku, sungguh tidak dapat terbayangkan betapa mengenaskan keadaan yang dilewati Kartini. Empat tahun bukanlah waktu yang lama. Dua tahun berjalan, ayahandanya mulai sedikit memberikan kebebasan kecil kepada Kartini, seminggu sekali Kartini diperbolehkan untuk mengikuti kerajinan tangan dengan teman-temannya. Kehadiran adik bungsunya dan kakaknya menjadi motivasi dalam setiap pemikiran-pemikiran perjuangannya demi mencerdaskan dan memberikan pendidikan kepada kaum perempuan pada khususnya. Semua itu bukan semata-mata mereka kaum perempuan untuk menjadi saingan dengan kaum laki-laki, tapi ini lebih dari pembelaan yang mengikat dalam tradisi Jawa yang mendeskripsikan perempuan.

panggil-aku-kartini-saja-1

Surat-surat Kartini banyak mengungkap tentang kendala-kendala yang harus dihadapi ketika bercita-cita menjadi perempuan Jawa yang lebih maju. Meski memiliki seorang ayah yang tergolong maju karena telah menyekolahkan anak-anak perempuannya meski hanya sampai umur 12 tahun, tetap saja pintu untuk ke sana tertutup. Kartini sangat mencintai sang ayah, namun ternyata cinta kasih terhadap sang ayah tersebut juga pada akhirnya menjadi kendala besar dalam mewujudkan cita-cita. Sang ayah dalam surat juga diungkapkan begitu mengasihi Kartini. Ia disebutkan akhirnya mengizinkan Kartini untuk belajar menjadi guru di Betawi, meski sebelumnya tak mengizinkan Kartini untuk melanjutkan studi ke Belanda ataupun untuk masuk sekolah kedokteran di Betawi.

Keinginan Kartini untuk melanjutkan studi, terutama ke Eropa, memang terungkap dalam surat-suratnya. Beberapa sahabat penanya mendukung dan berupaya mewujudkan keinginan Kartini tersebut. Ketika akhirnya Kartini membatalkan keinginan yang hampir terwujud tersebut, terungkap adanya kekecewaan dari sahabat-sahabat penanya. Niat dan rencana untuk belajar ke Belanda tersebut akhirnya beralih ke Betawi saja setelah dinasihati oleh Nyonya Abendanon bahwa itulah yang terbaik bagi Kartini dan adiknya Rukmini.

Pada pertengahan tahun 1903 saat berusia sekitar 24 tahun, niat untuk melanjutkan studi menjadi guru di Betawi pun pupus. Dalam sebuah surat kepada Nyonya Abendanon, Kartini mengungkap tidak berniat lagi karena ia sudah akan menikah. “…Singkat dan pendek saja, bahwa saya tiada hendak mempergunakan kesempatan itu lagi, karena saya sudah akan kawin…” Padahal saat itu pihak departemen pengajaran Belanda sudah membuka pintu kesempatan bagi Kartini dan Rukmini untuk belajar di Betawi.

Saat menjelang pernikahannya, terdapat perubahan penilaian Kartini soal adat Jawa. Ia menjadi lebih toleran. Ia menganggap pernikahan akan membawa keuntungan tersendiri dalam mewujudkan keinginan mendirikan sekolah bagi para perempuan bumiputra kala itu. Dalam surat-suratnya, Kartini menyebutkan bahwa sang suami tidak hanya mendukung keinginannya untuk mengembangkan ukiran Jepara dan sekolah bagi perempuan bumiputra saja, tetapi juga disebutkan agar Kartini dapat menulis sebuah buku.

Perubahan pemikiran Kartini ini menyiratkan bahwa dia sudah lebih menanggalkan egonya dan menjadi manusia yang mengutamakan transendensi, bahwa ketika Kartini hampir mendapatkan impiannya untuk bersekolah di Betawi, dia lebih memilih berkorban untuk mengikuti prinsip patriarki yang selama ini ditentangnya, yakni menikah dengan Adipati Rembang (doc. Kartini/Wikipedia.com).

Sungguh betapakah mengenaskan sekali perasaan itu. Hingga pada akhirnya di masa-masa terakhir kehidupan Kartini masih menyisahkan perjuangan-perjuangan yang masih belum terwujud. Beliau meninggal di Rembang pada tanggal 17 September 1904. Berjuanglah dan menderitalah untuk dunia dan generasi tanah air. Segala pemikiran-pemikiran dan perjuanganmu akan senantiasa kami dedikasikan untuk generasi, khususnya para perempuan Indonesia.

Selamat Hari Kartini, Musim Semi April 2012

Posted on Februari 7th, 2012 at 3:20 PM by kurniawanpeace

djenar1

LOUNCHING BUKU TERBARU TAHUN 2012

Salam Seni dan Sastra. Setelah beberapa tempo itu, kembali pada bulan Januari-Pebruari ni Sang Ibu Djenar Maesa Ayu terbitkan Buku terbarunya yang bertajuk “T(w)iTiT!”. Buku tersebut merupakan kumpulan follow Twitter Beliau yang diantologikan menjadi sebuah buku. Ini adalah sebuah salah satu dedikasi yang berharga untuk para penggemarnya di nuansa Sastra. Setelah beberapa tempo Buku yang berjudul 1 Perempuan 14 Laki-laki terbit pada tahun ini disusul kembali orbitnya buku terbaru. Dengan jumlah follower lebih dari 62.000, @djenarmaesaayu adalah salah satu akun terbesar dan terpopuler di Indonesia. Pemiliknya siapa lagi kalau bukan Djenar Maesa Ayu, penulis perempuan muda Indonesia. Dari akun inilah terpilih sebelas tweet Djenar yang kemudian dikembangkan menjadi cerita pendek. Kehilangan adalah proses awal menemukan’, ‘Hidup bukan untuk mencari perhentian tapi untuk melakukan perjalanan’, ‘Jika ada anak panah yang menusukmu, berharaplah itu bukan berasal dari busur jenuhku’, adalah contoh beberapa tweet yang dikembangkan menjadi cerita di dalam buku ini. Banyak pembaca Djenar yang kemudian meneruskan kalimat-kalimat itu dengan me-retweet-nya, tapi kadang ada juga yang salah arti dan salah tangkap hingga kege-eran. Untuk hal yang satu ini, Djenar pun menuliskan: “Status twitter oleh beberapa orang sering ditengarai sebagai isyarat. Sorry, kamu salah alamat!’. Rencananya, pada Sabtu (14/01) akhir pekan ini Djenar akan merilis sebuah buku miliknya yang berjudul T(wiITIT! di Jakarta Selatan. Acara yang akan dimeriahkan oleh Urban Music Corner, Kaka Slank, Andi /Rif, dan Iwa K ini akan dipandu oleh MC Indra Herlambang. Buku T(w)ITIT! sendiri akan mulai dipasarkan pada 27 Januari di toko-toko buku langganan Anda. Ini merupakan hal yang perlu dicicipi dan diapresiasikan. Karya sastra adalah kebebasan dalam menyuarakan gagasan dan perasaan dalam seorang penyair. Oleh karena itu, karya sastra akan senantiasa lestari dan selalu menjadi salah satu media yang relevan.

Doc. Djenar Maesa Ayu posting Sastro Romance Solo

Pebruari 2012